26 February 2024

TeknoVue

Just Another Review Site…..

Inilah Macam-macam Chipset Perangkat Android

5 min read
Ingin tahu chipset yang digunakan di Android?

Sebuah software tentu saja tidak akan berjalan tanpa adanya hardware pendukung. Begitu pula dengan sebuah perangkat Android yang kinerjanya sangat bergantung pada ramuan system on chip para produsen. Dengan munculnya Marshmallow, para produsen juga berlomba-lomba mengeluarkan hardware baru yang digadang telah mendukung sistem operasi Marshmallow tersebut.

Dukungan? Benar! Pada dasarnya chipset yang dikeluarkan oleh para produsen semenjak dua sampai tiga tahun yang lalu bisa menjalankan sistem operasi Android Marshmallow. Lalu mengapa kebanyakan smartphone lama tidak mendapatkan update sistem operasi tersebut? Ada beberapa alasan yang sering kali menjadi penyebabnya. Dua di antaranya adalah kemauan produsen smartphone serta ketersediaan driver dari produsen chipset.
Untuk membuat sistem bagi smartphone lama, produsen biasanya harus mengeluarkan sumber daya ekstra. Sedangkan, keuntungan akan lebih diperoleh saat produsen mengeluarkan smartphone baru yang disematkan sistem operasi baru pula. Hal ini pula yang sebenarnya ingin dieliminir oleh Google pada proyek AndroidOne. Lihat saja spesifikasi rendah AndroidOne generasi pertama yang saat ini sudah menjalankan Marshmallow tanpa cela.
Selain itu, masih teringat dibenak kita saat NVIDIA mengeluarkan Tegra 2. Saat itu, produsen smartphone hampir putus asa mendapatkan cacian karena sistem operasi baru tidak kunjung datang. Hal tersebut dikarenakan NVIDIA tidak menyediakan driver resmi untuk sistem operasi barunya.
Lalu, sekarang chipset terbaru mana saja yang bisa mendukung sistem operasi Marshmallow? Mari kita bahas satu persatu mengenai SoC yang sering digunakan oleh para produsen smartphone.
Qualcomm 
Qualcomm saat ini sangat dikenal dengan SoC Snapdragon. Qualcomm merupakan salah satu produsen SoC yang mendesain chipset mereka sendiri termasuk prosesornya. Hal ini karena Qualcomm memiliki lisensi arsitektur untuk mengubah desain prosesor menurut kehendak mereka sendiri, walaupun masih mengusung arsitektur ARM. Selain Qualcomm, Apple dengan prosesor seri A dan NVIDIA dengan Denvers  juga memiliki lisensi yang sama.
Pada tahun 2016, Qualcomm memperkenalkan Snapdragon 820 yang menggunakan prosesor terbaru desain mereka sendiri yang diberi nama Kryo. Prosesor pertama Qualcomm yang mendukung 64 bit ini merupakan penerus dari Krait yang digunakan pada Snapdragon 801. Selain CPU Kryo, pada SoC Snapdragon 820 juga telah dilengkapi dengan GPU yang dulunya milik AMD, Adreno dengan seri 530. DSP yang digunakan pada SoC ini adalah Hexagon 680.
Snapdragon 820 juga pertama kali didesain untuk mendukung heterogeneous computing. Hal ini tentu saja akan membuat SoC terbaru Qualcomm tersebut untuk dapat menggabungkan fungsi-fungsi dari core prosesor dari CPU, GPU, dan DSP (Digital Signal Processor) sehingga kinerjanya akan jauh lebih baik dan memakai lebih sedikit daya. Oleh karena itu, Qualcomm menjanjikan kinerja dan efisiensi sebanyak dua kali lipat dibandingkan SoC 810 mereka yang menggunakan prosesor ARM Cortex 57.
Pada segmen smartphone murah dan mainstream, Qualcomm juga memiliki seri 200, 400, dan 600. Khusus untuk Snapdragon 410 dan 615, kedua chipset ini sudah membuat Mediatek tidak lagi menjadi pilihan murah pada tahun 2015 lalu. Tentu saja, hal ini dikarenakan Qualcomm berhasil menjual chipset yang telah mendukung 4G dengan harga yang terjangkau.
Mediatek 
Mediatek mungkin merupakan sebuah produsen SoC yang sering dipakai pada smartphone dan tablet yang memiliki harga murah. Tidak jarang, orang-orang mencap SoC yang satu ini sebagai chipset murahan. Padahal, sampai saat ini kualitas Mediatek tidak pernah meragukan. Sebelum membuat SoC untuk smartphone dan tablet, perusahaan asal Taiwan ini sempat dikenal dengan chipset terbaiknya yang membuat produsen optical drive Lite-On ogah untuk memilih chipset lain.
Memulai debut mereka pada dunia ponsel di tahun 2009, saat ini Mediatek pun menjadi salah satu produsen yang ditakuti para pesaingnya. Hal ini karena Mediatek mampu membuat chipset berkualitas tinggi yang dibanderol dengan harga yang terjangkau. Sayangnya, laju Mediatek pada kelas terjangkau dijegal oleh Qualcomm pada tahun 2015.
Mediatek pun memiliki chipset andalan yang mereka namakan Helio. Helio x10 dan x20 sudah mulai beredar dipasaran dan juga membuat perangkat memiliki harga lebih murah. Kinerja yang ditawarkan oleh kedua Helio ini pun sepertinya juga telah meningkatkan standar sebuah smartphone kelas mainstream.
Mediatek hanya memiliki lisensi ARM core, yang berarti bahwa setiap SoC dari Mediatek akan menggunakan desain prosesor asli dari ARM tanpa adanya perubahan. Itulah mengapa setiap SoC Mediatek selalu menggunakan CPU Cortex, seperti Cortex A53 atau A57. Mediatek pun juga memiliki lisensi Mali dari ARM.
Intel 
Intel merupakan satu-satunya produsen chipset yang masuk ke pasar gadget dan masih menggunakan arsitektur instruksi yang mereka miliki, x86. Uniknya, chipset Atom yang mereka gunakan pada saat pertama kali masuk ke pasar smartphone kinerjanya mirip dengan Atom pertama yang dikeluarkan pada tahun 2008. Kinerja yang dimilikinya pun memaksa para pesaingnya untuk menciptakan chipset yang lebih kencang lagi.
Saat ini, Intel telah memiliki arsitektur Atom baru yang diberi nama Silvermont. Arsitektur tersebut juga telah digunakan pada beberapa smartphone seperti Zenfone 2, Lenovo P90, dan lain sebagainya. Tidak hanya pada smartphone saja, chipset yang menggunakan arsitektur Silvermont ini juga digunakan pada perangkat PC mungil seperti ComputeStick, tablet, netbook, dan lain sebagainya.
Saat digunakan untuk perangkat dengan sistem operasi Android, Intel bekerja sama dengan Imagination Technologies untuk teknologi GPU mereka. Intel menggunakan IGP mereka sendiri saat perangkat yang digunakan memakai sistem operasi Windows.
Intel saat ini sudah memiliki Airmont yang baru digunakan pada Microsoft Surface 3. Kabarnya, tidak lama lagi kita akan bisa melihat prosesor yang diproduksi dengan proses pabrikasi 14 nm ini digunakan pada smartphone.
Samsung 
Sama seperti Mediatek, Samsung juga memiliki lisensi ARM Core yang membuat SoC mereka yang saat ini dikenal dengan nama Exynos masih menggunakan desain prosesor dan GPU Mali dari ARM. Saat ini, Samsung hanya menjual lini flagship smartphone mereka di Indonesia dengan chipset Exynos. Di Amerika, Samsung menjual smartphone flagship mereka dengan chipset dari Qualcomm.
Selain lisensi ARM Core, ternyata Samsung juga memiliki lisensi arsitektur ARM. Hal inilah yang membuat kita dapat menemukan sebuah prosesor baru yang dinamakan Exynos M1 pada SoC Exynos 8890 yang dipakai pada Galaxy S7. M1 memiliki desain yang mirip dengan Cortex A72 dengan sedikit perbaikan ditambah teknologi cache Samsung Coherent Interconnect untuk meningkatkan performanya.
Samsung Exynos juga memiliki modem LTE yang sudah mendukung Cat 13. Berkat teknologi 3x Carrier Aggregation, hal ini memungkinkan penggunanya untuk melakukan download dengan kecepatan sampai 600 Mbps  dan upload hingga 150 Mbps.
HiSilicon 
Jika Anda pengguna Huawei, tentu saja sudah tidak asing lagi dengan chipset HiSilicon. HiSilicon atau Haisi Semiconductor Limited Company merupakan sebuah perusahaan milik Huawei yang mendesain chipset untuk perangkat gadget. Perusahaan ini memiliki lisensi core ARM untuk prosesornya dan membeli lisensi dari Vivante untuk GPU mereka. Walaupun begitu, sepertinya GPU Vivante tidak lagi digunakan oleh HiSilicon dan mereka memakai Mali pada SoC Kirin-nya.
Penggunaan nama Kirin sendiri dimulai oleh Huawei pada tahun 2014 lalu. Sebelumnya, Huawei menggunakan nama seri K3 pada lini SoC nya. SoC Kirin ini juga dipasarkan untuk kelas mainstream ke atas. Pada kelas performa, Huawei memiliki Kirin 950 yang telah menggunakan prosesor terkencang ARM saat ini, Cortex A72.
NVIDIA
NVIDIA memulai debut chipset mobile mereka pada tahun 2008. Sayangnya, lini Tegra pada tahun-tahun awalnya sepertinya kurang memperhatikan para penggunanya. Hal ini ditunjukkan dengan kesulitan dari para developer untuk mencari driver untuk chipset mereka. Barulah pada saat sang pencipta Linux mengkritik keras NVIDIA, perusahaan tersebut langsung membenahi dukungan mereka.
Pada sisi SoC-nya sendiri, Tegra merupakan salah satu chipset terkencang yang pernah ada. Pada saat ini pun, NVIDIA telah memasukkan teknologi GPU terkencang mereka, Maxwell ke dalam salah satu SoC terbarunya, Tegra X1. Sayangnya, SoC ini memiliki sebuah kekurangan: konsumsi daya yang cukup besar.
Tidak banyak pula produsen yang mengadopsi SoC NVIDIA Tegra untuk smartphone dan tablet mereka. Bisa jadi, hal ini dikarenakan NVIDIA lebih fokus untuk menyediakan chipset mereka ke industri otomotif seperti smartcar dan lain sebagainya. Tentunya, penggunaan daya yang besar tidak akan terlalu berpengaruh saat menggunakan sumber daya yang besar pula.
SUMBER: CHIP.CO.ID

Tinggalkan Komentar Anda

Tulis komentar di sini